Langsung ke konten utama

KENALAN YU DENGAN "METAPHORIC TRANSFER & CO CREATION

Kenalan Yu dengan “Metaphoric Transfer & Co-Creation”

#kangchupsways

Dalam dunia "experiential learning", pengalaman 
bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk. yang menentukan apakah pembelajaran itu "hidup" atau sekadar lewat dan idealnya suatu program pembelajaran berbasis pengalaman menghadirkan suatu proses pembelajaran di mana suatu pengalaman mampu dimaknai, diolah, dan ditransfer ke realitas kehidupan peserta.

Dan dalam  praktiknya, ada satu ilusi yang sering terjadi,aktivitas berjalan seru, energi tinggi, peserta terlibat penuh—lalu kita mengira pembelajaran sudah terjadi ?

Padahal, yang terjadi baru sebatas pengalaman,belum tentu menjadi kesadaran,dan hampir pasti belum menjadi perubahan.

Dan jika kita tarik ke fondasi teoritis, pendekatan ini berakar dari pemikiran John Dewey dan David.A Kolb dan ini bisa jadi memperkaya sudut pandang kita dalam menganalisa saat meranacang sebuah progran pembelajaran berbasis pengalaman baik saat Pra Program >Pelaksanaan Program>Paska Program

Kolb menekankan bahwa pengalaman harus diproses melalui refleksi untuk menjadi pembelajaran

Dewey menegaskan juga bahwa tidak semua pengalaman itu edukatif—hanya yang direfleksikan yang bermakna

Selaras dengan Priest & Gass,terkait bagaimana suatu aktifitas hadirkan pengalaman lalu di berikan makna, ,mereka mengembangkan sebuah tehnik atau metode bagaimana menjadikan sebuah pembelajaran berbasis pengalaman mampu hadirkan makna yang mampu di hubunghkan dalam kehidupan pesertanya,salah satunya adalah Metaphoric Transfer and Co Creation,apa itu ? :

-Metaphoric Transfer- adalah proses di mana peserta menghubungkan pengalaman dalam aktivitas dengan situasi kehidupan nyata melalui penggunaan metafora dan kesamaan struktur (isomorphism), sehingga memungkinkan terjadinya transfer pembelajaran.

Maka bisa di pahami dari pernyatan di atas bahwa "Metaphoric Transfer membutuhkan alat bantu atau media untuk secara sengaja menghadirkan aktifitas (Initiative Activities / Permaian/Simulasi ) yang sengaja di rancang sebagai suatu simulasi metaphoric,di mana terjadinya proses kognitif di mana seseorang memindahkan karakteristik satu hak ke hal lain untuk mendapatkan pemahaman baru atau pengalaman baru dalam proses pembelajaran misalnya kegiatan permainan di metapora kan dalam sebuah aktifiats proses manufacturing di sebuah pabrik, yang tentunya dalam aktifitasnya ada karateristik yang baik secara simbol atraupun secara "Values"mirip atau sama dan untuk mendapatkan proses pemaknaannya di butuh kan sebuah metode fasilitasi pembelajaran  yang fasilitatornya mampu memfasilitasi makna pada aktifitasnya yang juga mampu memindahkan atau menghubungankan  kesadaran  pembelajarannya ke dalam kehidupian nyatanya.

Lalu Apa Sih Yang Sebenarnya Terjadi Saat Metaphoric Transfer?

Dalam Metode ini akan ada proses proses yang secara kognitif dan psikologis, ada tiga proses yang berlangsung dan saling berkesinambungan : 

1. Encoding (Pengalaman Tertanam)

Aktifitas yang tadi sengaja kita rancang akan menananamkan sebuah pengalaman dan tentunya  pengalaman yang di dapat individu akan berbeda beda sartu sama lain ,akan sangat tergantung bagaimana individunya berinteraksi dalam sebuah program tersebut,menurut John Dewey, pengalaman individu di dapat dari,"Pengalaman berasal dari interaksi dengan lingkungan, - Experience occurs through the interaction of the individual and the environment - John Dewey -" 

Maka,Pengalaman muncul dari:

  • interaksi dengan orang lain
  • situasi sosial
  • lingkungan fisik
  • konteks kehidupan

Tidak ada pengalaman tanpa interaksi.

Dalam fasilitasi,aktifitas menjadi media yang akan membantu peserta mengalamai pembelajaran dan interaksi yang terjadi akan menjadi sumber pengalaman, peserta akan menjalani aktifitas dengan multi level dari termudah sampai dengan tersulit dan dalam proses pembelajarannya bisa terjadi konflik tim,tekanan waktu,kebingun strategi menyelesaiakan tantangan,kebingungan peran individu,konflik menyepakati ide dan hal hal yang lain yang bisa terjadi saat proses pembelajarannya dan yang mesti kita fasilitasi tentunya tidak fokus apa permainnya tapi fokus pada dinamika aktifitasnya tentang bagimana ada dinamika perasaann yang muncul (Emosional ), bagimana dinamaka pola respon terhadap gerakan atau hal hal fisik (Fisikal)  dan dan dinamaika cair mengutarakan ide,menganalisa ide dan dinamika pola pikir yang muncul (Intelektual)dan kita sampai pada yang namanya : 

 Raw data of experience - data data pengalaman

lalu setelah data pengalaman di dapat kita lanjut ke 

2.Abstraction (Makna Dibentuk)

Makna tidak muncul dari pengalaman.,makna tidak datang dari fasilitator. tapi makna lahir ketika seseorang berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan berkata:

“Ternyata ini bukan tentang permainan…
ini tentang saya.”

Dan dalam membentuk sebuah pengalaman menjadi makna ,tentunya mesti kita fasilitasi secara umum terlebih dahulu untuk memudahkan pemahaman yang di dapat dari penglaman beraktifitasnya, lalu kita lanjutkan lebih spesifik saat di fase "memindahkan makna" dalam memfasilitasi yang lebih spesifik pastikan seorang fasilitator harus untuk menggalai pengalaman menjadi makna,memfasilitasinya mesti relefan dengan proses pembelajarannya,kalau memang ini tentang aktifitas permainannya maka memang di fasilitasi tentang permainannya tapi kalau ini tentang permainan sebagai media pembelajaran maka hal hal yang bersifat tehnis permainannya sudah tidak menjadi esensial lagi, dan lebih essensial menggali lebih dalam dan relevan terkait nilai nilai pembelajarannya atau lebih memfokuskan apa yang di lakukan peserta bukan lagi bagaimana cara melakukannya  karena pada  titik ini  — abstraction bukan lagi proses berpikir,tapi proses tapi proses menyadari diri.

Dan ini juga di perkuat dengan sebuah teori, kalau makna akan terbentuk melalui transformasi refleksi untu menjadi konsep seperti konsep yang di kembangkan David A.Kolb dalam siklusnya Concrete Experience → Reflective ObservationAbstract Conceptualization , peserta menggeneralisasi pengalaman,membentuk konsep, prinsip, atau insight

Dan di sinilah fasilitasi berperan karena peserta mulai pada proses

  • mengidentifikasi pola
  • memberi nama pada pengalaman
  • menyusun narasi: “Oh, tadi kita gagal karena…”
  • akan muncul hal hal aktifitas di metapfora misal ,Tadi kita kayak di kantor, banyak ngomong tapi gak sinkron”

 Ini adalah momen lahirnya 

metafora awal -terbentunya konseptualisasi secara abstrak

setelah terbentuk konsep konsep absrak,maka ke fasilitasi peserta menuju

3.Transfer (Makna Dipindahkan)

Banyak orang mencari perubahan dalam satu momen.

Satu insight.Satu pelatihan.Satu keputusan.

Dan Lewin mengingatkan kita:

perubahan tidak lahir dari satu langkah,
tapi dari keberanian untuk terus melangkah…
lalu berhenti sejenak untuk melihat,
sebelum melangkah lagi.

Dan di situlah makna benar-benar berpindah—
bukan karena dipahami,
tapi karena diuji, diperbaiki, dan dihidupkan berulang kali.

Pada tahapan ini paling krusial, di mana makna pembelajara berbasis pengalaman di hubungkan dalam kehidupan nyata di di masa depan baik secara kehidupan pribadi ataupun kehidupan perusahaan atau organisasi

Saya memahami ucapan Lewin bahwa perubahan tidak lahir dari satu langkah tapi ada keberanian untuk terus melangkah dan boleh saya sebut ini adalah suatu proses berkesinambungan yang tentunya butuh konsistensi dan perjuangan berupa aksi aksi nyata dan artinya juga perubahan bisa terjadi jika ada aksi ,lalu di refleksikan kembali dan ini tentang siklus berulang, bukan tentang satu momen karena perubahan bukan peristiwa,perubahan adalah siklus.

Dan di situlah makna benar-benar berpindah— bukan karena dipahami,tapi karena diuji, diperbaiki, dan dihidupkan berulang kali.

Peserta mulai menghubungkan:

  • “Ini bukan cuma game”
  • “Ini sebenarnya saya”
  • “Ini terjadi juga di kehidupan saya”

Di sinilah terjadi 

Metaphoric Transfer - memkindahkan makna ke dalam Nilai Nikai kehidupan

Kenapa Ini Disebut Transfer?

Karena makna tidak berhenti di pikiran,karena Ia diuji di realitas,dipatahkan oleh kontek,diperbaiki melalui refleksi dan diperkuat melalui pengulangan

Inilah transfer yang hidup

Lalu Kenapa Mesti Co Creation

Karena Cocreation  ini tentang  aslian hasil belajar yang bersama ,tentang kespakati hasil belajar bersama ,dimana peserta dan fasilitator bersama-sama membangun makna, pemahaman, dan pembelajaran melalui interaksi, refleksi, dan dialog.

Dengan Co-Creation: “Saya mengajar, peserta belajar” Menjadi: “Kita menciptakan pembelajaran bersama”

Co-Creation adalah “mesin” yang membuat Metaphoric Transfer hidup

#kangchupsways

Pada akhirnya, permainan hanyalah media.
Makna lahir dari bagaimana pengalaman itu diproses dan bersama siapa ia dimaknai dan 
sesungguhnya adalah cermin dari kehidupan mereka sendiri.

Dan Co-Creation memastikan bahwa cermin itu tidak dipaksakan,melainkan ditemukan—dengan jujur, dengan sadar, dan dengan rasa memiliki.

Karena pembelajaran yang paling kuat bukan yang dijelaskan,tapi yang ditemukan sendiri dan dihidupkan bersama,tetap jaga ruang itu tetap hidup,agar makna bisa lahir, tumbuh, dan pulang bersama peserta ,karena tugas fasilitator bukan mengisi ruang dengan jawaban tapi memberi ruang untuk mereka bertumbuh dengan kesadaran diri

Salam,

“Pengalaman hanya jadi cerita, sampai ia menemukan maknanya.
Makna hanya jadi wacana, sampai ia dibangun bersama.
Dan perubahan,baru terjadi ketika apa yang kita alami berani kita bawa pulang ke kehidupan.”


Hernawan Iskandar,ST,M.Pd,C.NLP
Experiential Educator

Baca an dan referensi buku & e-book #Kangchupsways

1. Core Book: Metaphoric Transfer , Book of Metaphors — Michael A. Gass

2. Core Book: Facilitation & Co-Creation The Essential Elements of Facilitation — Simon Priest, Michael Gass, Lee Gillis

3. Core Book: Leadership & Experiential Design,Effective Leadership in Adventure Programming — Simon Priest & Michael A. Gass

4. Core Article,Using Metaphors and Isomorphs to Transfer Learning — Gass & Priest

5. Research Kunci: Metaphoric FacilitationThe Effectiveness of Metaphoric Facilitation Styles — Gass & Priest

6. Advanced Perspective: Metaphor Development,Facilitating Experiential Learning as a Process of Metaphor Development — Johan Hovelynck

7. Praktis Debrief & Transfer,Processing the Experience: Strategies to Enhance and Generalize Learning — Luckner & Nadler

8. Overview Modern Experiential Learning,The Handbook of Experiential Learning — Mel Silberman



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membangun Karakter dengan Metode Experiential Learning dalam Pendidikan Non-Formal

Membangun Karakter dengan Metode Experiential Learning dalam Pendidikan Non-Formal Pendidikan non-formal memiliki peran penting dalam membentuk karakter individu, terutama karena sifatnya yang fleksibel, kontekstual, dan berbasis kebutuhan peserta didik. Salah satu pendekatan efektif adalah Experiential Learning , yaitu pembelajaran melalui pengalaman nyata yang mendorong peserta aktif berpikir, merasakan, dan bertindak. Metode ini sangat relevan dalam konteks pendidikan non-formal seperti pelatihan kepemudaan, organisasi kepanduan, kursus keterampilan, hingga program pengembangan karakter taruna, karena mampu membangun nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab. Experiential Learning Sebagai Metode Pembalajaran Experiential Learning diperkenalkan oleh David A. Kolb (1984) melalui Experiential Learning Theory (ELT) . Menurutnya, pembelajaran adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Kolb menggambarka...

PRINSIP DASAR DAN PERAN FASILITATOR KEGIATAN INISIATIF

PRINSIP DAN PERAN FASILITATOR KEGIATAN INISIATIF “ It’s not what you play is important, but it’s how you play it “. Bukan apa yang akan  anda mainkan itu penting,tapi bagaimana anda memainkannya itu lebih penting PRINSIP DASAR Fasilitator membawa peserta keluar dari kerangka pemikiran lama, mencoba hal hal baru dan berbeda. Fasilitator menggunakan cara cara pendekatan yang berbeda, walau secara teoritis dan ketrampilan fasilitator adalah  sama. Karena Fasilitator Kegiatan Inisiatif adalah fasilitator yang tidak menyiapkan semua jawaban,peserta belajar dengan dirinya sendiri dengan sesama peserta serta dengan lingkungan dimana merekaberaktifitas dan dalam kegiatan inisiatif selalu berisi kegiatan kegiatan reaksi spontanitas dan tidak terprediksi  its FUN LEARNING “ Jangan coba puaskan mereka dengan pikiran pikiran bagus tapi cukup saja dengan memancing mereka untuk berpikir kreatif ” . Anatole France Seorang fasilitator kegiatan inisiatif selalu membuka hati dan...

Redisiplin: Bukan Sekadar Meluruskan Barisan tapi Tentang Menemukan Arah Diri

  Halo, pembaca. Setiap kali saya berkesempatan menjadi Fasilitator Pembelajaran dan kali ini menjadi Narasumber dengan tema Career Branding dalam program Redisiplin Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta , selalu ada momen yang tak pernah sama — momen di mana mereka mulai hening, merenung, dan perlahan mengenali dirinya sendiri. Bukan karena lelah, tapi karena sadar: bahwa disiplin bukan sekadar mematuhi aturan, melainkan menemukan arah dan makna dari perjalanan hidup yang sedang ditempuh. Redisiplin: Bukan Sekadar Meluruskan Barisan Banyak yang berpikir bahwa redisiplin adalah tentang memperketat peraturan, menegakkan barisan, dan menumbuhkan ketertiban. Namun bagi saya, lebih dari itu. Redisiplin adalah ruang reflektif di mana para cadet menata ulang dirinya — mengingat kembali alasan mengapa mereka memilih jalan pelayaran, dan nilai apa yang ingin mereka pegang sebagai cadet Di balik latihan fisik dan disiplin harian, tersimpan pelajaran besar tentang kepemimpinan...