Langsung ke konten utama

Postingan

KENALAN YU DENGAN "METAPHORIC TRANSFER & CO CREATION

Kenalan Yu dengan “Metaphoric Transfer & Co-Creation” #kangchupsways Dalam dunia "experiential learning", pengalaman  bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk. yang menentukan apakah pembelajaran itu "hidup" atau sekadar lewat dan idealnya suatu program pembelajaran berbasis pengalaman menghadirkan suatu proses pembelajaran di mana suatu pengalaman mampu dimaknai, diolah, dan ditransfer ke realitas kehidupan peserta. Dan dalam   praktiknya, ada satu ilusi yang sering terjadi,aktivitas berjalan seru, energi tinggi, peserta terlibat penuh—lalu kita mengira pembelajaran sudah terjadi ? Padahal, yang terjadi baru sebatas pengalaman ,belum tentu menjadi kesadaran, dan hampir pasti belum menjadi perubahan. Dan jika kita tarik ke fondasi teoritis, pendekatan ini berakar dari pemikiran John Dewey dan David.A Kolb dan ini bisa jadi memperkaya sudut pandang kita dalam menganalisa saat meranacang sebuah progran pembelajaran berbasis pengalaman baik saat  ...
Postingan terbaru

Seni Mengatur Jarak Antara Pengalaman Menuju Kesadaran: Saat Pengalaman Tidak Cukup, dan Makna Harus Diperjuangkan

Seni Mengatur Jarak Antara Pengalaman Menuju Kesadaran: Saat Pengalaman Tidak Cukup, dan Makna Harus Diperjuangkan #kangchupsways Ada satu kesalahan yang sering terjadi dalam dunia pelatihan berbasis pengalaman, Terkadang diri terlalu sibuk membuat aktivitas… tapi lupa memfasilitasi makna. Permainan berjalan seru. Peserta tertawa. Energi tinggi. Namun setelah selesai— tidak ada yang benar-benar berubah. Karena satu hal sederhana: pengalaman tidak otomatis menjadi pembelajaran. Fasilitator Bukan Pengisi Waktu Dalam pendekatan yang dikembangkan oleh Simon Priest dan Michael Gass, fasilitasi bukan soal memimpin aktivitas. Ia adalah seni mengatur jarak: antara pengalaman… dan kesadaran. Terlalu dekat, peserta tidak belajar. Terlalu jauh, peserta kehilangan arah. Ada tingkatan yang diri bisa jadikan pedoman dan arah untuk menuju pengalaman dapatkan kesadaran :  Tingkatan Pertama : Pengalaman Dibiarkan Bicara,Tapi Tidak Semua Orang Mendengar Kadang diri berpikir: “Biarkan saja, nanti jug...

FUN TREKKING DALAM KONSEP INITIATIVE ACTIVITIES

Kita melangkah bersama, bukan untuk mencapai puncak, tapi untuk menemukan makna di setiap jejak.”  Bayangkan... Kita semua memulai perjalanan ini dari titik yang sama — dengan tongkat mendaki yang membantu dalam perjalanan serat air mineral dan makan kecil sebagai sumber energi beberaoa jam ke depan, langkah pertama yang mantap, dan hati yang penuh semangat. Pagi itu, udara masih dingin. Daun-daun di sekitar basah oleh embun. Kita melangkah dengan tawa, dengan semangat, dengan harapan untuk sampai di tempat tujan. Tapi seiring langkah bertambah, jalan mulai menanjak, napas mulai berat, dan suara tawa pelan-pelan berubah menjadi diam. Di tengah perjalanan, kita mulai merasakan beratnya langkah. Ada yang lelah, ada yang tertinggal, ada yang ingin berhenti. Ada yang mulai kesal, dan ada yang mencoba tetap tersenyum meski hatinya ingin menyerah. Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai — bukan di kaki gunung, bukan di puncak, tapi di momen ketika kita mulai melawan diri sendiri. Lalu… ...

KUMPULAN LALU LINGKARAN

Pada suatu sore di sebuah lapangan hijau, sekelompok peserta pelatihan berkumpul setelah menyelesaikan kegiatan initiative game. Mereka berdiri berdekatan, sebagian masih sibuk membicarakan strategi dan hasil permainan. Seorang fasilitator — Kangchups — mendekat sambil tersenyum dan berkata pelan, “Sekarang, mari kita bentuk lingkaran.” Awalnya tampak sepele — hanya berpindah posisi. Namun, ada perbedaan besar antara Kumpulan dan lingkaran. Kumpulan tentang sekedar berhimpun,orang datang bersama, berdiri berdekatan, tapi belum tentu terhubung.Dalam kumpulan, bisa saja setiap orang masih memikirkan dirinya sendiri: siapa yang paling benar, siapa yang paling menonjol, atau siapa yang kurang berperan,kumpulan adalah awal, tapi belum menjadi komunitas,kumpulan sering diwarnai ego, status, dan jarak — meskipun fisiknya berdekatan. Kumpulan bisa ramai, tetapi belum tentu bermakna Lingkaran berbeda., ia melingkar, pandangan saling bertemu. Tak ada yang paling depan, tak ada yang paling belaka...

Redisiplin: Bukan Sekadar Meluruskan Barisan tapi Tentang Menemukan Arah Diri

  Halo, pembaca. Setiap kali saya berkesempatan menjadi Fasilitator Pembelajaran dan kali ini menjadi Narasumber dengan tema Career Branding dalam program Redisiplin Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta , selalu ada momen yang tak pernah sama — momen di mana mereka mulai hening, merenung, dan perlahan mengenali dirinya sendiri. Bukan karena lelah, tapi karena sadar: bahwa disiplin bukan sekadar mematuhi aturan, melainkan menemukan arah dan makna dari perjalanan hidup yang sedang ditempuh. Redisiplin: Bukan Sekadar Meluruskan Barisan Banyak yang berpikir bahwa redisiplin adalah tentang memperketat peraturan, menegakkan barisan, dan menumbuhkan ketertiban. Namun bagi saya, lebih dari itu. Redisiplin adalah ruang reflektif di mana para cadet menata ulang dirinya — mengingat kembali alasan mengapa mereka memilih jalan pelayaran, dan nilai apa yang ingin mereka pegang sebagai cadet Di balik latihan fisik dan disiplin harian, tersimpan pelajaran besar tentang kepemimpinan...

BELAY SCHOOL SEBAGAI UPAYA MEMBANGUNGUN NILAI NILAI KARAKTER

Belay School sebagai Upaya Membangun Nilai-Nilai Karakter "saya menjaga keselamatanmu, kamu menjaga keselamatanku" , kalimat antara sesama peserta dalam kegiatan Belay School, ini tentang membangun rasa tanggung jawab pembelajaran nilai (responsibility, trust, focus, awareness) sebelum ke tahapan yang lebih menantang Dalam dunia pendidikan dan pelatihan berbasis pengalaman ( experiential learning ), Belay School merupakan salah satu pendekatan khas yang dikembangkan oleh Project Adventure . Secara teknis, belay adalah keterampilan mengamankan seseorang saat melakukan kegiatan panjat atau rope course dengan menggunakan sistem tali, harness, carabiner, dan alat pengaman lainnya. Namun lebih dari sekadar keterampilan teknis, Belay School menekankan pada dimensi nilai, sikap, dan karakter yang terbangun melalui praktik keselamatan, kepercayaan, dan tanggung jawab. Makna Filosofis Belay School Belay bukan hanya persoalan menjaga tali agar pemanjat tetap aman, tetapi sebuah si...

Membangun Karakter dengan Metode Experiential Learning dalam Pendidikan Non-Formal

Membangun Karakter dengan Metode Experiential Learning dalam Pendidikan Non-Formal Pendidikan non-formal memiliki peran penting dalam membentuk karakter individu, terutama karena sifatnya yang fleksibel, kontekstual, dan berbasis kebutuhan peserta didik. Salah satu pendekatan efektif adalah Experiential Learning , yaitu pembelajaran melalui pengalaman nyata yang mendorong peserta aktif berpikir, merasakan, dan bertindak. Metode ini sangat relevan dalam konteks pendidikan non-formal seperti pelatihan kepemudaan, organisasi kepanduan, kursus keterampilan, hingga program pengembangan karakter taruna, karena mampu membangun nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab. Experiential Learning Sebagai Metode Pembalajaran Experiential Learning diperkenalkan oleh David A. Kolb (1984) melalui Experiential Learning Theory (ELT) . Menurutnya, pembelajaran adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Kolb menggambarka...